Sabtu, 21 Maret 2020

BERHENTI SEBELUM SEMAKIN JAUH (CERPEN)


           Mata laki-laki itu menatap lurus. Penyesalan demi penyesalan beruntut melingkupi dirinya, mengirim bulir-bulir air mata yang mulai menghiasi kedua matanya. Nafasnya sesak, bukan karena udara disekitar. Tetapi lebih kepada tekanan dan rasa bersalah yang kian menumpuk di dada. Kicauan burung dari jauh terdengar, seperti mengejeknya. Memperjelas bahwa semua kesalahannya saat ini memang sangat buruk.


            Ia menghela nafas pelan. Kemudian berbalik dan melangkah keluar dari balkon penginapan yang ia tempati sekarang. Aroma kopi yang ada di meja menguar di udara. Tetapi juga tidak bisa menghilangkan rasa sesak yang seakan semakin menggerogotinya saat ini.
            Tangannya meraih cangkir kopi tersebut dan menyeruput sedikit. Matanya terpejam, menikmati rasa kopi yang menyebar  dan setelahnya ia menghembuskan nafas. Matanya melirik ke arah berkas-berkas yang tergeletak berserakan di hadapannya, membuat ia kembalin memejamkan mata. Pusing memikirkan semuanya. Dirinya, kesalahan yang ia perbuat, dan dampak dari semua itu.
            Meletakkan cangkir kopinya kembali, ia kemudian menarik sebuah berkas dan membacanya. Lalu mengambil yang lainnya dan kembali menelusuri isi berkas-berkas tersebut. Kepalanya berdenyut kencang. Pusing melanda dan ia menghela nafas keras.
            “Bagaimana bisa mereka tetap mengirimku berkas-berkas ini? Setelah apa yang aku sampaikan kepada mereka kemarin?” ucapnya lirih. Tatapannya terpaku, menatap kosong dinding di depannya saat ini.
            Telepon yang berdering membuatnya tersentak. Ia menekan layar dan mendekatkan telepon itu ke telinga. Raut wajahnya yang sudah kusam, terlihat mengeras.
            “Apa maksudnya? Tidakkah kamu mengerti dengan ucapanku kemarin itu?” Ia menipiskan bibir, menggeram marah mendengar jawaban di ujung sana tetapi masih menahan diri agar tidak menyumpahi si penelepon. Disaat ia merasa sudah tidak bisa menahan diri lagi, ia mematikan sambungan itu secara sepihak. Telepon itu ia lempar begitu saja. Kemeja yang kusut, rambut yang berantakan, sudah tidak ia pikirkan lagi.
            Ia beranjak, mengambil kunci mobil dan barang-barangnya yang lain lalu keluar dari penginapan tersebut. Mobilnya melaju membelah jalanan ibu kota. Yang saat ini beruntungnya sangat lenggang sehingga ia mudah sampai di tempat tujuan dengan cepat.
            Setelah memakirkan mobilnya, ia segera melenggang masuk ke sebuah rumah megah. Kakinya melangkah menaiki tangga melingkar dan kemudian mengetuk salah satu pintu kamar disana. Pintu tersebut terbuka, menampilkan seorang wanita dewasa yang sangat cantik. Tetapi tergambar raut kesedihan dan kecemasan di wajahnya.
           “Apa kamu sudah memutuskan apa yang akan kamu lakukan?” wanita tersebut berbisik pelan. Lirih terdengar, membuat lidahnya kelu untuk menjawab.
            “Aku sudah mengatakan semuanya padamu. Apa yang akan kamu dapatkan apabila kamu melakukan hal tersebut.” Wanita itu berkata lagi. Kali ini menatap sendu ke arahnya yang masih bergeming.
            “Galih, putuskan apa yang akan kamu lakukan sekarang. Gunakan hati dan pikiran kamu. Bukan dengan nafsu kamu.” Galih—nama laki-laki tersebut—menghela nafas pelan. Ia mencoba menatap mata sang wanita yang saat ini masih menatap dirinya.
            “Aku sudah berpikir tentang semuanya selama dua hari ini.” Galih menelan ludahnya dengan susah payah. Sang wanita  masih menatapnya dengan wajah penuh harapan. Mengharap agar apapun yang lelaki itu putuskan baik untuk semua.
            Ia mengusap lembut lengan Galih, berusaha membuat lelaki itu tenang dan mantap dengan keputusan yang akan diambil. Galih balas menggenggam tangannya erat.
            “Aliana, apapun keputusan yang aku ambil saat ini, kau akan terus mendukungku, kan?” Galih meremas pelan tangan lembut yang ia genggam. Aliana tersenyum, sangat lembut sehingga Galih yang melihatnya merasa tenang, dan damai.
            Aliana mengangguk, balas menggenggam tangan Galih. “Apapun yang menjadi keputusan kamu, akan aku dukung, Galih. Selama itu baik untukmu, keluarga kita, dan yang lainnya.” Balas Aliana tulus.
            Galih tersenyum, merasa beruntung memiliki istri seperti Aliana. Wanita yang baru beberapa bulan ia nikahi. Wanita cantik, memiliki hati yang lembut, dan sangat mengerti akan dirinya. Ia merasa buruk sebagai seorang suami, yang tidak bisa menahan kemauan berlebihannya dan tidak mendengarkan apa kata sang istri. Sekarang ia menyesali semuanya, tetapi semua itu sudah terlambat.
            “Aku akan mengakui semuanya, Aliana.” Ucapan Galih tersebut membuat Aliana mengerjap. Ia menatap Galih, menelusuri mata suaminya itu. Ketulusan dan penyesalan tergambar disana, membuat Aliana menghembuskan nafas lega.
            Aliana mengangguk dan tersenyum. “Aku akan selalu mendukung dan menunggu kamu disini. Aku senang kamu mau mengakui semuanya, Galih.” Ucap Aliana lembut. Ia kemudian memeluk Galih erat. “Kapan kamu akan mengakui semuanya?” Aliana mendongakkan kepalanya, menatap wajah Galih yang sekarang sudah tidak terlihat tertekan lagi.
            “Sekarang, Aliana. Aku akan mengakui semuanya sekarang. Aku tidak mau lagi di hantui rasa bersalah. Ketika melihat ke luar sana, aku merasa sesak. Dadaku terasa ditekan oleh penyesalan dan rasa bersalah.” Galih tersenyum sedih. Aliana yang melihat itu hanya bisa mendengarkan.
            “Aku menyesal tidak mendengarkan apa katamu, sayang. Semua nafsu dan egoku terlalu besar sehingga aku tidak bisa berpikir apa yang akan terjadi ke depannya.” Ujar Galih, lagi. Ia melepaskan pelukan mereka menarik Aliana untuk duduk di kasur. Tangannya menggenggam tangan Aliana erat.
            Aliana mengusap pelan pipi Galih. “Ayo, kita ke persidangan sekarang.”
            Galih mengangguk dan tersenyum lembut, menatap Aliana. “Aku akan mengakui semua perbuatan korupsi yang kulakukan. Sogokan yang aku terima. Dan proyek-proyek yang aku setujui karena uang dan berakibat dengan kebakaran  di berbagai wilayah di kota ini. Aku akan menerima semua hukumannya ini, sayang. Aku mohon jangan ditinggalkan aku.” Mata Aliana berkaca-kaca saat mendengar Galih berkata seperti itu. Ia mengangguk dan tersenyum.
            “Ayo, Galih. Kita tidak bisa menunda lagi. Sudah banyak yang terluka karena semua ini. Aku ingin kamu terbebas dari semua rasa bersalah, penyesalan dan hidup tenang lagi. Seperti dulu, sebelum nafsu menggerogoti kamu.” Aliana menarik Galih, melangkah keluar dan memasuki mobil. Galih menetralkan deru nafasnya, mulai menjalankan mobil. Melaju, berjalan untuk menebus semua kesalahan yang telah ia perbuat.
***
            Pengadilan memutuskan untuk memberikan keringanan hukuman kepada Galih karena laki-laki itu telah mengakui sendiri semua kesalahannya. Galih, yang juga ditemani sang istri, Aliana juga meminta maaf ke masyarakat atas kebakaran hutan akibat perjanjian yang ia tandatangai dan telah merugikan mereka. Semua harta Galih disita, tabungan keduanya juga mereka gunakan untuk membayar ganti rugi kepada masyarakat.
            Kini Aliana tinggal di rumah sederhana. Galih, menjalani masa percobaan karena keringanan hukuman yang diberikan kepadanya. Keduanya merasa lega. Walaupun kehidupan mereka berubah, mereka masih bersyukur karena masyarakat memaafkan perbuatan Galih dan menerima mereka dengan tangan terbuka.
            Kini Galih tengah menatap kebun di hadapannya dengan tatapan menerawang. Delapan tahun berlalu, ia dan Aliana sudah mempunyai seorang anak laki-laki. Kebun di hadapannya adalah kebun yang ia tanami dan ia urus dengan warga sekitar. Kebun ini telah menjadi ladang pekerjaan bagi masyarakat.
            Galih bersyukur ia mengakui semua perbuatannya dulu. Ia kini bisa hidup bahagia dan tenang dengan keluarga kecilnya. Dan ia juga merasa bahagia karena telah membayar semua kesalahannya dahulu kepada masyarakat di sekitarnya. Ia berharap, semua akan bahagia. Tidak ada lagi korupsi yang dilakukan, tidak ada lagi penandatangan proyek yang akhirnya akan merugikan masyarakat, dan tidak ada lagi orang-orang yang akan dirugikan.
            Ia hanya berharap Negara ini makmur. Itu saja keinginannya saat ini.
          
***SELESAI***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar