Mata laki-laki itu menatap lurus. Penyesalan demi
penyesalan beruntut melingkupi dirinya, mengirim bulir-bulir air mata yang
mulai menghiasi kedua matanya. Nafasnya sesak, bukan karena udara disekitar.
Tetapi lebih kepada tekanan dan rasa bersalah yang kian menumpuk di dada.
Kicauan burung dari jauh terdengar, seperti mengejeknya. Memperjelas bahwa
semua kesalahannya saat ini memang sangat buruk.
Ia
menghela nafas pelan. Kemudian berbalik dan melangkah keluar dari balkon penginapan
yang ia tempati sekarang. Aroma kopi yang ada di meja menguar di udara. Tetapi
juga tidak bisa menghilangkan rasa sesak yang seakan semakin menggerogotinya
saat ini.
Tangannya
meraih cangkir kopi tersebut dan menyeruput sedikit. Matanya terpejam, menikmati
rasa kopi yang menyebar dan setelahnya
ia menghembuskan nafas. Matanya melirik ke arah berkas-berkas yang tergeletak
berserakan di hadapannya, membuat ia kembalin memejamkan mata. Pusing
memikirkan semuanya. Dirinya, kesalahan yang ia perbuat, dan dampak dari semua
itu.
Meletakkan
cangkir kopinya kembali, ia kemudian menarik sebuah berkas dan membacanya. Lalu
mengambil yang lainnya dan kembali menelusuri isi berkas-berkas tersebut.
Kepalanya berdenyut kencang. Pusing melanda dan ia menghela nafas keras.
“Bagaimana
bisa mereka tetap mengirimku berkas-berkas ini? Setelah apa yang aku sampaikan
kepada mereka kemarin?” ucapnya lirih. Tatapannya terpaku, menatap kosong
dinding di depannya saat ini.
Telepon
yang berdering membuatnya tersentak. Ia menekan layar dan mendekatkan telepon
itu ke telinga. Raut wajahnya yang sudah kusam, terlihat mengeras.
“Apa
maksudnya? Tidakkah kamu mengerti dengan ucapanku kemarin itu?” Ia menipiskan
bibir, menggeram marah mendengar jawaban di ujung sana tetapi masih menahan
diri agar tidak menyumpahi si penelepon. Disaat ia merasa sudah tidak bisa
menahan diri lagi, ia mematikan sambungan itu secara sepihak. Telepon itu ia
lempar begitu saja. Kemeja yang kusut, rambut yang berantakan, sudah tidak ia
pikirkan lagi.
Ia
beranjak, mengambil kunci mobil dan barang-barangnya yang lain lalu keluar dari
penginapan tersebut. Mobilnya melaju membelah jalanan ibu kota. Yang saat ini
beruntungnya sangat lenggang sehingga ia mudah sampai di tempat tujuan dengan
cepat.
Setelah
memakirkan mobilnya, ia segera melenggang masuk ke sebuah rumah megah. Kakinya
melangkah menaiki tangga melingkar dan kemudian mengetuk salah satu pintu kamar
disana. Pintu tersebut terbuka, menampilkan seorang wanita dewasa yang sangat
cantik. Tetapi tergambar raut kesedihan dan kecemasan di wajahnya.
“Apa
kamu sudah memutuskan apa yang akan kamu lakukan?” wanita tersebut berbisik
pelan. Lirih terdengar, membuat lidahnya kelu untuk menjawab.
“Aku
sudah mengatakan semuanya padamu. Apa yang akan kamu dapatkan apabila kamu
melakukan hal tersebut.” Wanita itu berkata lagi. Kali ini menatap sendu ke
arahnya yang masih bergeming.
“Galih,
putuskan apa yang akan kamu lakukan sekarang. Gunakan hati dan pikiran kamu.
Bukan dengan nafsu kamu.” Galih—nama laki-laki tersebut—menghela nafas pelan.
Ia mencoba menatap mata sang wanita yang saat ini masih menatap dirinya.
“Aku
sudah berpikir tentang semuanya selama dua hari ini.” Galih menelan ludahnya
dengan susah payah. Sang wanita masih
menatapnya dengan wajah penuh harapan. Mengharap agar apapun yang lelaki itu
putuskan baik untuk semua.
Ia
mengusap lembut lengan Galih, berusaha membuat lelaki itu tenang dan mantap
dengan keputusan yang akan diambil. Galih balas menggenggam tangannya erat.
“Aliana,
apapun keputusan yang aku ambil saat ini, kau akan terus mendukungku, kan?”
Galih meremas pelan tangan lembut yang ia genggam. Aliana tersenyum, sangat
lembut sehingga Galih yang melihatnya merasa tenang, dan damai.
Aliana
mengangguk, balas menggenggam tangan Galih. “Apapun yang menjadi keputusan
kamu, akan aku dukung, Galih. Selama itu baik untukmu, keluarga kita, dan yang
lainnya.” Balas Aliana tulus.
Galih
tersenyum, merasa beruntung memiliki istri seperti Aliana. Wanita yang baru
beberapa bulan ia nikahi. Wanita cantik, memiliki hati yang lembut, dan sangat
mengerti akan dirinya. Ia merasa buruk sebagai seorang suami, yang tidak bisa
menahan kemauan berlebihannya dan tidak mendengarkan apa kata sang istri.
Sekarang ia menyesali semuanya, tetapi semua itu sudah terlambat.
“Aku
akan mengakui semuanya, Aliana.” Ucapan Galih tersebut membuat Aliana
mengerjap. Ia menatap Galih, menelusuri mata suaminya itu. Ketulusan dan
penyesalan tergambar disana, membuat Aliana menghembuskan nafas lega.
Aliana
mengangguk dan tersenyum. “Aku akan selalu mendukung dan menunggu kamu disini.
Aku senang kamu mau mengakui semuanya, Galih.” Ucap Aliana lembut. Ia kemudian
memeluk Galih erat. “Kapan kamu akan mengakui semuanya?” Aliana mendongakkan
kepalanya, menatap wajah Galih yang sekarang sudah tidak terlihat tertekan
lagi.
“Sekarang,
Aliana. Aku akan mengakui semuanya sekarang. Aku tidak mau lagi di hantui rasa
bersalah. Ketika melihat ke luar sana, aku merasa sesak. Dadaku terasa ditekan
oleh penyesalan dan rasa bersalah.” Galih tersenyum sedih. Aliana yang melihat
itu hanya bisa mendengarkan.
“Aku
menyesal tidak mendengarkan apa katamu, sayang. Semua nafsu dan egoku terlalu
besar sehingga aku tidak bisa berpikir apa yang akan terjadi ke depannya.” Ujar
Galih, lagi. Ia melepaskan pelukan mereka menarik Aliana untuk duduk di kasur.
Tangannya menggenggam tangan Aliana erat.
Aliana
mengusap pelan pipi Galih. “Ayo, kita ke persidangan sekarang.”
Galih
mengangguk dan tersenyum lembut, menatap Aliana. “Aku akan mengakui semua
perbuatan korupsi yang kulakukan. Sogokan yang aku terima. Dan proyek-proyek
yang aku setujui karena uang dan berakibat dengan kebakaran di berbagai wilayah di kota ini. Aku akan
menerima semua hukumannya ini, sayang. Aku mohon jangan ditinggalkan aku.” Mata
Aliana berkaca-kaca saat mendengar Galih berkata seperti itu. Ia mengangguk dan
tersenyum.
“Ayo,
Galih. Kita tidak bisa menunda lagi. Sudah banyak yang terluka karena semua
ini. Aku ingin kamu terbebas dari semua rasa bersalah, penyesalan dan hidup
tenang lagi. Seperti dulu, sebelum nafsu menggerogoti kamu.” Aliana menarik
Galih, melangkah keluar dan memasuki mobil. Galih menetralkan deru nafasnya,
mulai menjalankan mobil. Melaju, berjalan untuk menebus semua kesalahan yang
telah ia perbuat.
***
Pengadilan
memutuskan untuk memberikan keringanan hukuman kepada Galih karena laki-laki
itu telah mengakui sendiri semua kesalahannya. Galih, yang juga ditemani sang
istri, Aliana juga meminta maaf ke masyarakat atas kebakaran hutan akibat
perjanjian yang ia tandatangai dan telah merugikan mereka. Semua harta Galih
disita, tabungan keduanya juga mereka gunakan untuk membayar ganti rugi kepada
masyarakat.
Kini
Aliana tinggal di rumah sederhana. Galih, menjalani masa percobaan karena
keringanan hukuman yang diberikan kepadanya. Keduanya merasa lega. Walaupun
kehidupan mereka berubah, mereka masih bersyukur karena masyarakat memaafkan
perbuatan Galih dan menerima mereka dengan tangan terbuka.
Kini
Galih tengah menatap kebun di hadapannya dengan tatapan menerawang. Delapan
tahun berlalu, ia dan Aliana sudah mempunyai seorang anak laki-laki. Kebun di
hadapannya adalah kebun yang ia tanami dan ia urus dengan warga sekitar. Kebun
ini telah menjadi ladang pekerjaan bagi masyarakat.
Galih
bersyukur ia mengakui semua perbuatannya dulu. Ia kini bisa hidup bahagia dan
tenang dengan keluarga kecilnya. Dan ia juga merasa bahagia karena telah
membayar semua kesalahannya dahulu kepada masyarakat di sekitarnya. Ia
berharap, semua akan bahagia. Tidak ada lagi korupsi yang dilakukan, tidak ada
lagi penandatangan proyek yang akhirnya akan merugikan masyarakat, dan tidak
ada lagi orang-orang yang akan dirugikan.
Ia hanya berharap Negara ini makmur. Itu saja keinginannya saat ini.
***SELESAI***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar